..Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

..Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ..Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Good Morning, Afternoon, Evening, Night.. Welcome To My Blog.. Selamat Datang di Blog Saya.. Salam Sejahtera untuk Kita Semua.. Semoga Kita selalu dalam Lindungan Allah SWT.. آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Jumat, 26 November 2021

SEJARAH KABUPATEN KENDAL

SEJARAH KABUPATEN KENDAL..

KENDAL PADA MASA AKHIR KERAJAAN MAJAPAHIT

Suatu hari, Sang Prabu Brawijaya bersemedi memohon pada yang Mahakuasa. Hasil semedinya cocok dengan pelaporan para ahli nujum kerajaan. Majapahit yang agung dan termasyhur akan segera beralih tempat. Namun pemegang kekuasaan tetap berada di tangan keturunan sang prabu. Rajanya akan ditaati seluruh rakyat Jawa Dwipa bahkna nusantara. Sang prabu lalu jatuh sakit. Mendapat wisik, penyakit akan sembuh bila Sang Prabu mau mengawini seorang puteri berambut keriting dan kulit kehitam-hitaman, Puteri Wandan Tetapi setelah Puteri Wandan mengandung, Sang Prabu terusik lagi oleh pelaporan para nujum kerajaan, bahwa sang bayi kelak akan membawa bencana. Ya, inilah awal kehancuran Majapahit. Tak pelak sang bayi diserahkan kepada seorang petani, dan jauh dari pusat kerajaan. Bayi itu adalah Bondan Kejawan, yang kemudian menurunkan Ki Getas Pendowo - Ki Ageng Selo - Ki Ageng Henis - Sunan Laweyan. Dari lelaki desa yang lugu tapi penuh sasmita itu, lahir sang Pemanahan, dan berdirilah Mataram.

Sunan Katong dan Pakuwojo: asal-usul nama Kendal

Bathara Katong atau Sunan Katong besama pasukannya mendarat di Kaliwungu dan memilih tempat di pegunungan Penjor atau pegunungan telapak kuntul melayang. Beberapa tokoh dalam rombongannya antara lain terdapat tokoh seperti Ten Koe Pen Jian Lien (Tekuk Penjalin),Han Bie Yan (Kyai Gembyang) dan Raden Panggung (Wali Joko).
Penyebaran Islam di sekitar Kaliwungu tidak ada hambatan apapun. Sedangka memasuki wilayah yang agak ke barat, ditemui seorang tokoh agama Hindu/Budha, bahka disebutkan sebagai mantan petinggi Kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit untuk wilayah Kendal/Kaliwungu, bernama Suromenggolo atau Empu Pakuwojo.

Dikatakan dalam cerita tutur, ia seorang petinggi Majapahit dan ahli membuat pusaka atau empu. Ia seorang adipati Majapahit yang pusat pemerintahannya di Kaliwungu/Kendal. Untuk meng-Islamkan atau menyerukan kepada Pakuwojo supaya memeluk agam Islam, Tidaklah mudah sebagaimana meng-ISlamkan masyarakat biasa lainnya. Biasanya sifat gengsi dan merasa jad taklukan adalah mendekati kepastian. Karena ia merasa punya kelebihan, maka peng-Islamannya diwarnai dengan adu kesaktian, sebagaimana Ki Ageng Pandan Aran meng-Islamkan para 'Ajar' di perbukitan Bergota/Pulau Tirang.

Kesepakatan atau persyaratan dibuat dengan penuh kesadaran dalam kapasitas sebagai seorang ksatria pilih tanding. "Bila Sunan Katong sanggup mengalahkannya, maka ia mau memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Katong", demikian sumpah Pakuwojo di hadapan Sunan Katong. Pola dan gaya pertrungan seperti it memang sudash menjadi budaya orang-orang dahulu. Mereka lebih menjunjung sportivitas pribadi.

Dengan didampingi dua sahabatnya dan satu saudaranya, pertarungan antarkeduanya berlangsung seru. Selain adu fisik, mereka pun adu kekuatan batin yang sulit diikuti oleh mata oran awam. Kejar mengejar, baik di darat maupun di air hingga berlangsung lama dan Pakuwojo tidak pernah menang. Bahkan ia berkeinginan untuk lari dan bersembunyi. Kebetulan sekali ada sebuah pohon besar yang berlubang. Oleh Pakuwojo digunakan sebagai tempat bersembunyi dengan harapan Sunan Katong tidak mengetahuinya. Namun berkat ilmu yang dimiliki, Sunan Katong berhasil menemukan Pakuwojo, dan menyerahlah Pakuwojo.

Sebagaimana janjinya, kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Oleh Sunan Katong, pohon yang dijadikan tempat persembunyian Pakuwojo diberi nama Pohon Kendal yang artinya penerang. Di tempat itulah Pakuwojo terbuka hati dan pikirannya menjadi terang dan masuk Islam. Dan Sungai yang dijadikan tempat pertarungan kedua tokoh itu diberi namaKali/Sungai Kendal, yaiut sungai yang membelah kota Kendal, tepatnya di depan masjid Kendal. Pakuwojo yang semula oleh banyak orang dipanggil Empu Pakuwojo, oleh Sunan Katong dipanggil dengan nama Pangeran Pakuwojo, sebuah penghargaan karena ia seorang petinggi Majapahit. Setelah itu ia memilih di desa Getas Kecamatan Patebon dan kadang-kadang ia ebrada di padepokannya yang terletak di perbukitan Sentir atau GUnung Sentir dan menjadi murid Sunan Katong pun ditepati dengan baik. Sedangkan nama tempat di sekitar pohon Kendal disebutnya denganKendalsari.

Masih ada keterangan lain yang ada hubungannya dengan nama Kendal. Dikatakannya bahwa nama Kendal berasal dari kataKendalapura. Dilihat dari namanya, Kendalapura ini berkonotasi dengan agama Hindu. Artinya, bahwa Kendal sudah ada sejak agama Hindu masuk ke Kendal. Atau paling tidak di dalam berdo'a atau mantera-mantera pemujaan sudah menyebu-nyebut nama Kendalapura. Ada juga keterangan yang menerangkan bahwa Kendal berasal dari kata Kantali atau Kontali. Nama itu pernah disebut-sebut oleh orang-orang Cina sehubungan dengan ditemukannya banya arca di daerah Kendal. Bahkan disebutkan oleh catatan itu bahwa candi-candi di Kendal jauh lebih tua dari candi Borobudur maupun candi Prambanan. Temuan-temuan itu patut dihargai dan bahkan bisa menjadi kekayaan sebuah asal-usul, walaupun kebanyakan masyarakat lebih cenderung pada catatan Babad Tanah Jawi yang menerangkan bahwa nama Kendal berasal dari sebuah pohon yang bernama pohon Kendal.

Kecenderungan itu karena dapat diketahui tentang tokoh-tokohnya yaitu Sunan Katong dan Pakuwojo yang mendapat dukungan dari Pangeran Benowo. Selain itu catatan-catatan pendukung lainnya justru berada di Universitas Leiden, Belanda, sebuah perguruan tinggi terkenal yang banyak menyimpan catatan sejarah Jawa. Akan halnya cerita Sunan Katong dan Pakuwojo dalam legenda yang telah banyak ditulis itu menggambarkan sebuah prosesi, betapa sulitnya merubah pendirian seseorang, terlebih menyangkut soal agama/keyakinan. Cerita-cerita itu menerangkan bahwa antara Pakuwojo dan Sunan Katong pada akhirnya tewas bersama (sampyuh). Cerita yang sebenarnya tidaklah demikian. Cerita itu maksudnya, begitu Pakuwojo berhasil dibuka hatinya oleh Sunan Katong, dan Pakuwojo mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi murid Sunan Katong, berarti antara kedua tokoh itu hidup rukun sama-sama mengembangkan agama Islam.

KENDAL MENJADI KABUPATEN

Sang nujum itu benar-benar titis pikir. Puteri Bondan Kejawan beriringan kasih sayang dengan KiAgeng Ngerang. Tuturnya dari sini lahir sang Bahu, sorang cicit yang berdampingan dengan Pangeran Benowo sang Mahkota Pajang. Ikatannya ditali dengan batin seperguruan sang leluhur. Setia tak gampang merekah. Tanah Kukulan mengantar sang Bahurekso berdekat diri dengan orang agung dari Mataram, dimulai dari anugerah nama, Kyai Ngabehi Bahurekso, dan selanjutnya Raden Tumenggung Bahurekso, sang Adipati Kendal. Alas Roban dan Alas Gambiran, Batang dan Pekalongan karya utama sang Bahu, yang berdampingan dengan pengejawantahan Nawangsari sebidadarian dengan Nawangwulan. Sang kekasih Bahurekso terpatri di hati dengan sebutan Dewi Lanjar. Magangan, Plantaran, Kali Aji, Sabetan dan Ngeboom merupakan saksi bisu dan monumen yang terlupakan dari sejarah sebuah kabupaten di Kaliwungu. Pusat budaya. Kota kecil itu menjadi kota besar, dan dari Klaiwungu berhasil menembus Batavia pada Kaladuta. Nama Kendal tidak lagi menasional tetapi telah melangit di tingkat internasional. Sang Bahurekso, adipati, gubernur pesisir Jawa dan dan panglima perang.

Siapa Kyai Kendil Wesi? : adakah hubungannya dengan Bagus Menot
Siapakah Kyai Kendil Wesi itu?

Menurut catatan Amien Budiman, Kyai Kendil Wesi itu nama aslinya adalah TUmenggung Singowijoyo. Bupati Kendal ini tewas di gunung Tidar Magelang ketika terjadi geger Pakunegaran. Kemudian ia digantikan oleh kemenakannya dengan gelar Tumenggung Mertowijoyo. Dan setelah meninggal digantikan oleh adiknya dengan nama kehormatan yang sama yaitu Tumenggung Mertowijoyo, yang meninggal di Loji Semarang. Tumenggung ini mempunyai putera yang bernama Mertowijoyo yang kemudian lebih dikenal dengan Mertowijoyo I.

Sedangkan catatan yang beredar di Kendal menerangkan bahwa yang dimaksud Kyai Kendil Wesi adalah bupati Kendal yang memiliki nama Mertowijoyo II, adik dari Tumenggung Singowijoyo yang memerintah pada tahun 1700 - 1725. Meninggal dan dimakamkan di pemakaman Pekuncen Kendal. Sedangkan pusakanya yang bernama Kendil Wesi diwariskan pada puteranya yang namanya juga nunggak semi dengannya yaitu Mertowijoyo III. Setelah meningal dunia, jenazah dan pusaka Kendil Wesinya dimakamkan di bawah pohon Doropayung Desa Sukolilan Patebon Kendal.

Nama Mertowijoyo jgua ditemukan dalam buku Serat Babad Negari Semarang dan Babad Mentawis. Dalam Serat Babad Nengari Semarang diterangkan bahwa nama Mertowijoyo itu masih ada hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), penguasa Semarang atau Tirang Amper, yang berarti ada hubungan garis keturunan dengan Raden Fatah, Sultan Demak. Lengkap silsilahnya disebut sebagai berikut; Raden Fatah (Demak) berputera Pangeran Sabrang Lor, berputera Pangerawn Pandan Aran I (Ki Mode Pandan), berputera Pangeran Kanoman bupati Semarang (adik Sunan Tembayat), berputera Kyai Khalifah, berputera Kyai Laweyan, berputera Kyai Sumendhi (Kyai Alap-alap, bupati Semarang), berputera Kyai Rangga Hadi Negoro (Surahadimenggala ke-2, bupati Semarang), berputera Kyai Ronggo Mertoyuda (Surahadimenggala ke-3, bupati Semarang), berputera Kyai Mertowijyoyo.

Namun menurut cerita yang dicatat dala buku peninggalan-peningglan kunodi Kendal disebutkan bahwa Mertowijoyo berasal dari Lumajang. Karena ada selisih keluarga dengan adiknya, ia mengalah dan membawa pengikutnya berlayar dan akhirnya terdampar di Kendal.
bersama pengikutnya ia membuka suatu daerah sebagai tempat tinggal, dan karena ia mempunyai sebauh pusaka yang berwujud kendil terbuat dari bes, maka ia terkenal dengan nama Kyai Kendil Wesi. Ia meninggal ketika geger pakunegaran di gunung Tidar Magelang, dan jenazahnya dimakamkan di Pekuncen Kendal. Sedangkan jabatan bupati jatuh ke tangan Mertowijoyo III, putera Mertowijoyo I berikut pusakanya.

Kemudian siapa yang dimaksud dengan Bagus Menot?

Diceritakan bahwa ia putera Tumenggung Mertowijoyo. Namun tidak jelas Mertowijoyo yang mana. Namun kalau dilihat dari cerita yang beredar di Kendal bahwa ia adalah putera adipati tetapi akhir hayatnya mukso tanpa nama. Bisa jadi ia adalah putera Adipati Mertowijoyo I. Sebab, ketika Mertowijoyo I meninggal dunia, jabatan bupati diwakili oleh patihnyasendiri (lihat dan perhatikan dalam nama-nama Bupati Kendal di bagian akhir).
Seperti diceritakan oleh juru kunci makam Bagus Menot, Pak Puji (50), serta para orang tua yang suka dengan cerita tempo dulu, bahwa Bagus Menot adalah putera seorang adipati. Ketika ayahnya kembali dari berperang (geger Pakunegaran) ia dalam keadaan terluka parah karena terkena sabetan senjata. Sedangkan isterinya dalam keadaan hamil. Sebelum Mertowijoyo meninggal dunia, ia berpesan kepada semua kerabat bahwa kelak yang menggantikan dirinya menjadi bupati Kendal adalah putera yang masih dalam kandungan. Bila ia nanti lahir laki-laki, harap diberi nama Jaka Aminoto. Dan apaibila menduduki kursi bupati namanya Adipati Aminoto. Begitu pesan ayahandanya, Mertowijoyo. Ada tuturan lagi, selain bernama Aminoto jga punya nama lain yaitu Raden Sutejo.

Kelahiran bayi Aminoto bersamaan dengan kematian sang ibu. Maka bayi Aminoto dirawat oleh keluarga. Ketika mencapai usia dewasa, kira-kira 17 tahun, malapetaka menimp dirinya. Orang yagn menduduki jabatan bupati warisan dari ayahnya merasa resah karena pewaris yang asli sudah tumbuh dewasa. Maka tidak ada jalan yang terbaik kecuali harus menyingkirkan sang pewaris dengan cara apapun.

Usaha Pembunuhan pun beberapa kali dilakukan. Bahkan menurut cerita itu, Jaka Menot pernah dilarung ke laut, namun masih bisa selamat. Dan ketika ada usaha untuk meracuni melalui pelayan kerabat, Jaka Menot juga selamat. Maka tidak ada jalan lain kecual harus dibunuh, tetapi ada yang menyarankan cara itu memang kurang baik. Maka cara yang terbaik Jaka Menot diusir dari kadipaten. Setelah meninggalkan kadipaten, maka diatur supaya ada punggawa mengejarnya dengan maksud untuk membunuh Jaka Menot. Ada tuturan lagi, bahwa baik orang-orang kabupaten ataupun Belanda, merasa takut dengan kemampuan spiritual Bagus Aminoto. Diterangkan, kemampuan seorang remaja yang baru berusia belasan tahun sudah diketahui biasa bermain-main batu dan rumput. Konon batu-batu itu dibuat semacam tasbih dengan cara ditusuk dengan rumput dan ternyata bisa tembus.

Jaka Menot lari ke arah barat dan ternyata banyak juga orang merasa iba, karena para punggawa kakdipaten tersu mengejarnya untuk membunuh. Kenmudian ia ditolong oleh seorang tua. Namun pengejaran tersu dilakukan, dan orang tua yang diketahui menolong Jaka Menot, dibunuh. Kepalanya terpisah dari badannya, dan kakinya juga dipotong. Hanya tinggal badan (gembung). Di kemudian hari nama tempat membunuh orang tua itu terkenal dengan namaBugangin. Jaka Menot terus berlari mencari selamat. Karena merasa capek, ia beristirahat di sebuah pohon pinang (jambe). Ia terus dikejar oleh punggawa kadipaten. Setelah melihat para punggawa terus mengejar, Jaka Menot terus lari. Ketika para punggawa sampai di bawah pohon jambe itu, tercium bahwa ada bau harum pada pohon jambe. Maka tempat itu dinamakan Jambearum.


#kendal #kendaljawatengah #jawatengah #kotakendal #kabupatenkendal #kaliwungu #kaliwungukendal #halilintarsepatusandal

Rabu, 24 November 2021

SEJARAH TENTANG KABUPATEN KENDAL DI KALIWUNGU

SEJARAH TENTANG KABUPATEN KENDAL DI KALIWUNGU

Kaliwungu, disebut juga Lepen Wungu (sejarah Bagelen), Lepen Tangi (Babad Sultan Agung), Caliwongo (Francois Valentiju), daerah yang dipilih oleh Bahurekso sebagai pusat pemerintahan sebuah Kadipaten. Pada saat itu Kaliwungu adalah daerah yang telah dibangun oleh Sunan Katong yang kemudian dikembangkan oleh ulama Mataram Panembahan Djoeminah. Upaya pengembangan oleh ulama yang memiliki garis keturunan dengan Sunan Giri, yaitu Kyai haji Asy'ari atau Kyai Guru, yang datang ke Kaliwungu pada beberapa tahun kemudian. Kaliwungu memang daerah mungkin, selain itu dari faktor geografis memenuhi syarat sebagai daerah pertahanan.

Nama Nama Bupati Kendal dan Kaliwungu

Dalam catatan yang ada di arsip Kabupaten Kendal, nama-nama bupati Kendal tidak terdapat nama-nama Raden Ronggo Hadimenggolo sampai dengan Hadinegoro III. Dengan demikian, maka sebelum dipindahkan ke Kota Kendal, maka Kaliwungu merupakan induk atau pusat pemerintahan. Sehingga tujuh orang keturunan Panembahan Djoeminah itu adalah Bupati Kaliwungu. Di bawah ini ada catatan tentang nama-nama bupati Kendal mulai Tumenggung Bahurekso.

1. Tumenggung Bahurekso

Sejak kapan Tumenggung Bahurekso diangkat sebagai Adipati Kendal, memang belum ditemukan data yang resmi. Tetapi HJ De Graaf, sejarawan Belanda yang sudah berhasil menulis beberapa tentang Javalogi mengatakan bahwa tahuan 1615, ketika pertama kali utusan dagang VOC berkeinginan menghadap Sultan Agung, Raja Mataram, terlebih dahulu harus menghadap Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal. Akan tetapi ada catatan yang menjelaskan bahwa Tumenggung Bahurekso diangkat menjadi Bupati Kendal pada hari Jumat Kliwon, tanggal 12 Robiul Awal tahun 1023 H, bertepatan dengan tanggal 8 September 1614, dengan gelar Raden Tumenggung Bahurekso.

Akhir pemerintahannya sampai dengan 26 Agustus 1628, gugur melawan tentara Belanda di Batavia, 21 Oktober 1628.

2. Raden Ngabehi Wiroseco (1629 - 1641)

Penggati Raden Tumenggung Bahurekso adalah Raden Ngabehi Wiroseco, sahabat dekat dengan Pangeran Benowo (putra Sultan Hadwijoyo). Tokoh ini hanya meninggalkan jejak karena meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu RadenMgabehi Wiroseco dibuat oleh tokoh-tokoh yang memiliki nama sama, yaitu Wiroseco, yang semula penguasa jepara. Tapi Raden Wiroseco yang satu ini tidak lama berkuasa di kendal, karena atas usul VOC ia ditarik lagi ke jepara. maka dari tahun (1629 - 1641), jabatan bupati kendal dijabat oleh dua orang, dengan nama yang sama, yaitu Raden Ngabehi Wiroseco(catatan Amin budiman, Menyingkap Sejarah Kendal seri V).

3. Raden Ngabehi Mertoyudo (1641 - 1649)

Bangsawan asal Mataram. Dan pada awal pemerintahanya, Kerajaan Mataram telah terjadi alih kekuasaan dari Sultan Agung (1645) kepada puteranya, Sultan Amanfkurat I.

4. Raden Ngabehi Wongsodiprojo (1649 - 1650)

Bangsawan asal Mataram. Menjabat baru beberapa bulan sudah wafat.

5. Raden Ngabehi Wongsowiroprojo (1650 - 1661)

Putera dari Raden Ngabehi Wongsodiprojo (Bupati ke -4)

6. Raden Ngabehi Wongsowirosroyo (1661 - 1663)

Putera dari Raden Ngabehi Wongsodiprojo (Bupati ke -5)

7. Tumenggung Singowijoyo I atau Singowonggo (1663 - 1668)

Putera dari Raden Ngabehi Wosongwirosroyo (Bupati ke -6). Pada tahun 1677 di utus Sunan Amangkurat I untuk mengetahui keadaan di jakarta sehubungan dengan aksi orang cina yang melawan belanda. dan tahun 1677 ini pula terjadi alih kepemimpinan mataram dari Sunan Amangkurat I ke Adipati Amon atau sunan amangkurat II, dan Tumenggung Singowijoyo I wafat 1688,tanpa sakit.

8. Tumenggung Mertowijoyo I (1688 - 1700)

Putera Raden Tumenggung Ngabehi Singowijoyo I (Bupati ke -7) wafat 1694, dan selanjutnya diwakili oleh pamannya yang (juga) bernama Singowijoyo, hingga 1700. Nama Tumenggung Mertowijoyo juga ditemukan dalam buku Babad Mentawis dan Serat Babad negari semarang. Seperti dituturkan oleh Amen Budiman Bahwa Tumenggung Mertowijo tewas dalm peristiwa geger pakunegaran di wilayah kedu, kelihatannya mendapat dukungan dari babad Mentawis. Sebab buku itu menerangkang bahwa Tumenggung Mertowijoyo ambil bagian secara aktif dalam peristiwa tersebut. Sedangkang dalam serat babad negeri semarang diterangkan bahwa nama Tumenggung Mertowijoyo erat hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Aran Atau Ki mode pandan. diterangkang lagi bahwa garis nasab Mertowijoyo dimulai dari pangeran Kanoman, adik Sunan Tembayat. bila catatan itu sesuai dengan yang dimaksud, maka Tumenggung Mertowijoyo ada garis Lurus dengan Sultan Akbar AL- Fatah dari Kerajaan Demak.

9. Tumenggung Mertowijoyo II (1700 - 1725)

Adik dari Raden Tumenggung Singowijoyo I (Bupati KE-7), atau Paman dari Tumenggung Mertowijoyo I. Tumenggung Mertowijoyo II ini juga di sebut Kyai Kendil Wesi, karena punya pusaka berwujud kendil yang terbuat dari besi. wafat tahun 1725 dan dimakamkan dipemakaman pakucen, kebondalem, kecamatan kota kendal, sedangkang pusakanya dimakamkan dipesarean Doropayung, sukolilan, patebon , kendal. Dua tahun setelah Tumenggung Mertowijoyo II di angkat, tahun 1703 Sunan Amangkurat II meninggal dunia, dan di ganti puterannya, Sunan Mas, yang bergelar Sunan Amangkurat III. Pada masa keemasan, Murah sandang dan murah pangan

10. Tumenggung Mertowijoyo III (1725 - 1739)

Putera Tumenggung Mertowijoyo I (Bupati ke - 8), dimakamkan di pesarean Doropayung - patebon - kendal, bersebelahan dengan makam pusaka kendil wesi. Bisa jadi pusaka itu diserahkan oleh Tumenggung Mertowijoyo II kepada puteranya, Tumenggung Mertowijoyo III, sebagai adat kelangsungan pemerintah, sebagaimana dulu Kyai Plered diwariskan kepada Sultan Agung.

11. Tumenggung Singowijoyo II (1739 - 1754)

Putera kedua dari Tumenggung Singowijoyo I (bupati ke-9), dimakamkan di Loji Wurung Semarang. Jabatan bupati kosong, diwakili oleh Patih Mertomenggolo asal Jepara sampai tahun 1755.

12. Tumenggung Soemonegoro I (1755 - 1780)

Putera dari Adipati Soerohadimenggolo, Adipati Semarang, 1755 - 1780. Ketika itu di Mataram terjadi Perjanjian Gianti. Mataram dibagi menjadi dua; Yogyakarta dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Sedangkan Surakarta dikuasai oleh keturunan Paku Buwono II, yang kemudian digantikan oleh puteranya Paku Buwono III.

13. Tumenggung Soemonegoro II (1780 - 1785)

Putera Adipati Soemonegoro I (bupati ke-12). Didampingi seorang patih bernama Ronggodipowongso, yang menjabat patih hingga 1880.

14. Tumenggung Soerohadinegoro II (1780 - 1785)

Putera kedua Adipati Soemonegoro I (bupati ke-12)

15. Raden Tumenggung Prawirodiningrat I

Semula bupati Demak (1896 - 1811). Setelah Adipati Prawirodiningrat wafat, selama dua tahun pemerintahan Kabupaten Kendal dilaksanakan oleh Patih Wiromenggolo hingga 1813. Pada tahun 1811, pemerintah Inggris membangun jalan raya Dandels yang melalui Kaliwungu - Kendal. Atas usul Patih Wiromenggolo, ibukota Kabupaten Kaliwungu akan dipindahkan ke Kota Kendal dengan alasan:

Letak Kaliwungu kurang strategis karena sering dilanda banjir, sedangkan sebelah selatan terdiri tanah yang berbukit-bukit. Kota Kendal tanahnya datar dan cukup luas, letaknya juga dekat pantai yang baik. Pada tahun 1812 pemerintah Inggris menyetujui pemindahan ibukota tersebut. Untuk pertama kali rumah kabupaten/pendopo dibangun menghadap ke Jalan Dandels, yang kemudian disebut Jalan Pungkuran dan sekarang dinamakan Jalan Pemuda. Pada tahun 1813, pemerintah Inggris menobatkan putera alamarhum Tumenggung Prawirodiningrat I sebagai Bupati Kaliwungu terakhir dan Bupati Kendal yang pertama (hapusnya istilah/sebutan Kabupaten Kaliwungu) dengan gelar Pangeran Ario Prawiradiningrat II.

16. Raden Tumenggung Prawirodiningrat II (1813 - 1830)

Putera dari R.T. Prawirodiningrat I (Bupati ke-15). Dan mulai tahun 1829, bergelar Pangeran Haryo (PH), wafat tahun 1830, dimakamkan di Protowetan. Gelar Pangeran Haryo diperoleh karena adipati Kaliwungu ini membantu Belanda ketika perang Diponegoro. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Patih Kaliwungu hingga tahun 1832. Dan Patih Kaliwungu ini juga disebut Tumenggung Kasepuhan, rumah terakhir kepatihan Kaliwungu, wafat tahun 1434, dimakamkan di Protowetan, Kaliwungu. Bersamaan dengan pemerintahan Prawirodiningat II, Pulau Jawa dikuasai oleh Inggris, dan Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal.

17. Raden Tumenggung Purdadiningrat atau Prododingrat (1832 - 1850)

Menantu R.T Prawirodiningrat II, 1832 - 1850. Mungkin karena dipandang sangat memebahayakan Belanda, maka Bupati Kendal ini diasingkan ke Manado. Sehingga oleh masyarakat disebut Adipati Kendhang.

18. KRT. Soerohadiningrat atau soerohadi diningrat atau Sosrodiningrat (1850 - 1857)

Berasal dari Gresik, kemudian tahun 1857 dipindah ke Purbolinggo.

19. Pangeran Ario Notoproto atau Notohamiprojo (1857 - 1890)

Wafatnya dimakamkan di Protowetan.

20. Raden Mas Adipati Notonegoro (1891-1914)

Putera Pangeran Adipati (bupati ke-19), diangkat tahun 1891, wafat tahun 1914, dimakamkan di Protowetan.

21. Raden Mas Adipati Aryo Notohamijoyo (1914 - 1938)

Putera dari RMA. Notonegoro (bupati ke-20). Nama aslinya Raden Muhammad. Wafat Desember 1949. Karena ada halangan, diwakili oleh patih Kendal, Raden Notomoedigdo.

Pada waktu pemerintahan Adipati Aryo Nothamiprojo, Pemerintah Belanda mulai memberi wewenang kepada bupati untuk bertindak sebagai Perguruan Tinggi seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan kemudian ada lagi satu lembaga yang mengurusi keuangan desa dan pasar-pasar. Lembaga ini berjalan mulai tahun 1939.

22. Raden Mas Purbonegoro atau Poerboatmojo Adisoerjo (1939 - 1942)

23. Patih Kendal, Raden Koesumohoedojo (1942 - 1945)

24. Soekarmo, anggota Syusangiin,

25. Raden Poeslam,

26. Raden Prajitno Partididjojo,

27. Raden soedjono,Bupati Blora (1957 - 1960)

28. Raden Abdurrahman,

29. Raden Gondopranoto,

30. Raden Salatoen, (1960 -1965)

31. Walikota R. Sunardi, Dandim Kendal, (1965 -1967)

32. Letkol RM Soeryosuseno, (1967 -1972)

33. Drs. H. Abdussaleh ranawijaya, (1972 - 1979)

34. Drs. H. Herman Soemarmo, (1979 - 1984)

35. H Soedono Jusuf, BA (1984 - 1989)

36. H Soemojo Hadiwinoto, SH (1989 - 1999)

37. Drs. H. Djoemadi (1999 - 1999)

38. H. Hendy Boedoro, SH, M.Si - Drs. H. Masduki Yusak, M.Pd (2000 - 2005)

39. Drs. Suwarto Nasucha, M.Si Pj Bupati Kendal (13 Juni 2005 - 22 Agustus 2005)

40. H. Hendy Boedoro, SH, M.Si - Dra. Hj. Siti Nurmarkesi ( 2005 - 2010) masa jabatan tahun 2005 - 22 Desember 2008.

41. Dra. Hj. Siti Nurmarkesi (7 Juni 2007 - 22 Juli 2009) Wakil Bupati melaksanakan tugas sebagai Bupati.

42. Dra. Hj. Siti Nurmarkasi (22 Juli 2009 - 23 Agustus 2010)

43. dr. Hj. Widya Kandi Susanti, MM - HM Mustamsikin, S.Ag. M.Si (2010 - 2015)

44. Drs. Kunto Nugroho, HP. M.Si Pj Bupati Kendal (1 September 2015 - 17 Februari 2016)

45. dr. Mirna Annisa, M.Si - Masrur Masykur (17 Februari 2016 - 17 Februari 2021)

42. Dra. Hj. Siti Nurmarkasi (22 Juli 2009 - 23 Agustus 2010)

43. dr. Hj. Widya Kandi Susanti, MM - HM Mustamsikin, S.Ag. M.Si (2010 - 2015)

44. Drs. Kunto Nugroho, HP. M.Si Pj Bupati Kendal (1 September 2015 - 17 Februari 2016)

45. dr. Mirna Annisa, M.Si - Masrur Masykur (17 Februari 2016 - 17 Februari 2021)

46. Moh Toha, S.T, M.Si, Pelaksana Harian Bupati Kendal (PLH) -  (17 Februari 2021 – 26 Februari 2021)

47. Dico M Ganinduto – H. Windu Suko Basuki (26 Februari 2021 – Sekarang).


#kaliwungu #kendal #kabupatenkaliwungu #kabupatenkendal #kecamatankaliwungu #kabupatenkendaljawatengah #provinsijawatengah #halilintarsepatusandal

SUNAN KATONG DAN PAKUWOJO *ASAL USUL NAMA KENDAL*

Sunan Katong dan Pakuwojo, asal-usul nama Kendal


Bathara Katong atau Sunan Katong besama pasukannya mendarat di Kaliwungu dan memilih tempat di pegunungan Penjor atau pegunungan telapak kuntul melayang. Beberapa tokoh dalam rombongannya antara lain terdapat tokoh seperti Ten Koe Pen Jian Lien (Tekuk Penjalin), Han Bie Yan (Kyai Gembyang) dan Raden Panggung (Wali Joko).
Penyebaran Islam di sekitar Kaliwungu tidak ada hambatan apapun. Sedangka memasuki wilayah yang agak ke barat, ditemui seorang tokoh agama Hindu/Budha, bahka disebutkan sebagai mantan petinggi Kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit untuk wilayah Kendal/Kaliwungu, bernama Suromeggolo atau Empu Pakuwojo.
Dikatakan dalam cerita tutur, ia seorang petinggi Majapahit dan ahli membuat pusaka atau empu. Ia seorang adipati Majapahit yang pusat pemerintahannya di Kaliwungu/Kendal. Untuk meng-Islamkan atau kepada Pakuwojo agar memeluk agam Islam, Tidaklah mudah sebagaimana meng-ISlamkan masyarakat biasa lainnya. sifat gengsi dan merasa jad taklukan adalah mendekati kepastian. Karena ia merasa kelebihan, maka peng-Islamannya punya dengan adu kesaktian, sebagaimana halnya Ki Ageng Pandan Aran meng-Islamkan para 'Ajar' di perbukitan Bergota/Pulau Tirang.

Kesepakatan atau persyaratan dibuat dengan penuh kesadaran dalam kapasitas sebagai seorang ksatria pilih tanding. "Bila Sunan Katong sanggup mengalahkannya, maka ia mau memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Katong", demikian sumpah Pakuwojo di hadapan Sunan Katong. Pola dan gaya pertungan seperti itu memang sudash menjadi budaya orang-orang terlebih dahulu. Mereka lebih menjunjung sportivitas pribadi.

Dengan ditemani dua sahabat dan satu saudaranya, pertarungan antarkeduanya berlangsung seru. Selain adu fisik, mereka pun adu kekuatan batin yang sulit diikuti oleh mata orang awam. Kejar mengejar, baik di darat maupun di udara hingga berlangsung lama dan Pakuwojo tidak pernah menang. Bahkan ia berkeinginan untuk lari dan membocorkan. kebetulan ada sebuah pohon besar yang berlubang. Oleh Pakuwojo digunakan sebagai tempat ketakutan dengan harapan Sunan Katong tidak mengetahuinya. Namun berkat ilmu yang dimiliki, Sunan Katong berhasil menemukan Pakuwojo, dan menyerahlah Pakuwojo.

Sebagaimana janjinya, kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Oleh Sunan Katong, pohon yang dijadikan tempat persembunyian Pakuwojo diberi nama Pohon Kendal yang artinya penerang. Di tempat itulah Pakuwojo terbuka hati dan pikirannya menjadi terang dan masuk Islam. Dan Sungai yang menjadi tempat pertarungan kedua tokoh itu diberi nama Kali/Sungai Kendal, yaiut sungai yang memuji kota Kendal, tepatnya di depan masjid Kendal. Pakuwojo yang semula oleh banyak orang yang dipanggil Empu Pakuwojo, oleh Sunan Katong yang dipanggil dengan nama Pangeran Pakuwojo, sebuah penghargaan karena ia seorang petinggi Majapahit. Setelah itu ia memilih di desa Getas Kecamatan Patebon dan kadang-kadang ia ebrada di padepokannya yang terletak di perbukitan Sentir atau Gunung Sentir dan menjadi murid Sunan Katong pun ditepati dengan baik.

#sunankatong #pakuwojo #kanjengsinuwunsunankatong #empupakuwojo #kaliwungu #kendal #asalusulnamakendal #asalusulnamakaliwungu #jawatengah #indonesia #sejarah #ceritarakyat #ceritarakyatkendal #ceritarakyatkaliwungu #halilintarsepatusandal

PANTAI NGEBUM MOROREJO KALIWUNGU KENDAL JAWA TENGAH INDONESIA

PANTAI NGEBUM KALIWUNGU KENDAL JAWA TENGAH INDONESIA

Pantai Ngebum (Ngebom) berada di pesisir pantai utara masuk di wilayah Kabupaten Kendal, lebih tepatnya di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

  • Berbatasan dengan  Laut Jawa di utara, 
  • Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di timur, 
  • Kabupaten Temanggung di selatan, serta 
  • Kabupaten Batang di barat.  

Pantai ini di beri nama mirip dengan pantai Ngebum atau Ngebom yang berada di Kota Pekalongan. Tidak begitu jelas kenapa namanya mirip. Hal yang sama juga berlaku untuk nama Curug (waterfall) Lawe yang ada di Kebun teh Medini Kendal dan Curug Lawe Kalisidi Kecamatan Gunungpati. Namun sebagian masyarakat ada yang memberi nama Pantai Ngebum dengan sebutan Pantai Mororejo. Karena Pantai ini merupakan wilayah sekaligus tempat mata pencaharian Desa Mororejo.

Untuk menuju ke Pantai Ngebum, petualang bisa melewati beberapa jalur yang mudah dilewati baik dengan motor atau mobil. Karena jalur ke pantai Ngebum sebenarnya merupakan jalur truk kontainer untuk membawa log (kayu) ke pabrik Kayu Lapis Indonesia dan Pabrik Rimba Partikel Indonesia yang berada di dekat Desa Mororejo.  

Hanya berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Kaliwungu atau sekitar 15 menit perjalanan ke arah utara melewati Jalan Laut menuju Pantai Ngebum, petualang bisa leluasa mengendarai kendaraan sambil melihat pemandangan tambak ikan dan tanaman bakau di sisi kiri jalan. Atau melihat indahnya panorama pegunungan dan sawah yang membentang luas di sebelah kanan.

Bagi petualang yang memulai dari arah Kota Semarang, bisa di tempuh dengan waktu sekitar 30menit. Jalur yang harus ditempuh melewati beberapa titik seperti Tugu – Mangkang – Kota Kaliwungu – Jalan Laut – Mororejo (Pabrik Kayu Lapis Indonesia) – Pantai Ngebum. Atau jalur yang lain melewati Mangkang – Jalur lingkar Kendal – (sekitar 3km kemudian) ada tanda atau plang Pantai Mororejo (Pantai Ngebum) di sebelah kiri sebelum jalan naik – Belok kiri ke arah jalan kecil – Mororejo – Pantai Ngebum. Untuk yang satu ini disarankan petualang untuk pelan dan tidak mendadak waktu berbelok. Tenang saja, karena ketika sudah terlanjur melewati belokan, sekitar 10meter kemudian ada bebepa belokan ke arah kiri yang lain. Mudah bukan.

Jalan menuju Pantai Ngebum bisa dikatakan lumayan, hanya beberapa titik jalan sedang menunggu perbaikan. Namun bagi para petualang, hal-hal sepele seperti itu tidak akan mengurangi semangat untuk terus ke utara menuju Pantai Ngebum. Beberapa kemudian menit petualangan akan melihat panorama yang indah seperti tambak, hutan bakau, dan pabrik Kayu Lapis Indonesia dan Pabrik Rimba Partikel Indonesia yang besar di sisi kiri jalan. Setelah melewati Jalan Laut, petualangan akan masuk ke dalam Desa Mor ujungjo hanya beberapa saat penjelajahan berada di Pantai Ngebum.

Tiket masuk ke pantai hanya Rp. 3.000,-, cukup merakyat memang. Setelah melewati tiket masuk, sekitar 100 meter kemudian petualang akan berada persis di ujung pantai Ngebum. Silakan untuk memarkir kendaraan yang banyak disediakan masyarakat dengan membayar Rp. 2.000,- untuk  roda dua. Berjalan beberapa langkah, sudah menemukan keindahan alam yang menajubkan. Ombak yang indah dan banyak kursi di pinggir pantai menambah nyaman suasana Pantai.

Arena Bermain ATV Pantai Ngebum

#pantaingebum #pantai #pantaingebumkaliwungu #pantaingebumkendal #pantaingebumjawatengah #pantaingebummororejo #pantailaututara #pantaingebummororejokaliwungukendaljawatengah #mororejo #kaliwungu #kendal #jawatengah #indonesia #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #halilintarsepatusandal

KAMPUNG RAGAM WARNA MRANGGEN KUTOHARJO KALIWUNGU KENDAL JAWA TENGAH INDONESIA

KAMPUNG RAGAM WARNA


Kampung Ragam Warna adalah salah satu kampung yang begitu elok dan kaya akan seni budaya. Kampung ini berada di Dusun Mranggen Desa Kutoharjo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal. Jaraknya kurang lebih 20 km dari rumahku. Untuk menuju ke Kampung Ragam Warna ini mudah karena letaknya yang dekat dengan Masjid Agung Al Muttaqin Kaliwungu. Jika kalian menggunakan kereta api bisa turun di Stasiun Weleri lanjut bus dan turun di depan Masjid Agung Al Muttaqin Kaliwungu, lalu bisa dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 750 meter atau bisa juga naik ojek.


Sejarah Kampung Ragam Warna

Siapa sangka kalau Kampung Mranggen sebelum berubah menjadi kampung yang asri penuh warna-warni, dulunya adalah kampung yang kumpulan dan banyak orang yang tahu. Aku saja sebagai warga Kabupaten Kendal baru tahu kampung ini setelah kampung ini foto menjadi Kampung Ragam Warna yang penuh pesona. Dan sampai saat ini aku sudah beberapa kali datang ke sini.


Nama Kampung Ragam Warna ini memiliki makna kampung yang menggunakan ragamwarna, karena semua rumah dan jalan di Kampung Ragam Warna ini dicat warna-warni oleh warganya sendiri dengan cat Pacific Paint. Tak hanya karena penuh warna-warni saja, Kampung Ragam Warna juga memiliki makna kampung yang beraneka ragam seni dan budayanya.

Di Kampung Ragam Warna ini mata kalian akan tertuju pada warna-warni dan ragam mural yang tak dinding rumah warga, kampung yang begitu luas karena 2 RT saja dan hanya oleh 100 keluarga. Kampung ini sangat unik dan kreatif karena semua sudutnya sangat instagramable. Bahkan tak ada sudut yang tak berwarna, mulai jalan, dinding, atap, pintu, jendela hingga kamar mandi umum pun berwarna-warni.

Sebenarnya kampung dengan corak warna-warni seperti ini sudah ada di beberapa kota, seperti Kampung Kali Code di Yogyakarta, Kampung Jodipan Di Malang, Kampung Pelangi di Semarang dan masih banyak lagi. Namun Kampung Ragam Warna ini tidak seperti kampung warna-warni pada umumnya Kampung Ragam Warna memiliki keunikan yang terletak pada beragam ragam seni dan budayanya.


Kampung Ragam Warna Penggerak Ekonomi Warga

Kampung Ragam Warna menjadi kampung yang mampu menggerakkan perekonomian warganya. Warga di Kampung Ragam bekerja sebagai buruh pabrik yang gajinya hanya pas-pasan, namun setelah adanya Kampung Ragam Warna penghasilan warga di sini lebih meningkat karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sini sehingga banyak ibu-ibu yang sekarang menjual makanan dan minuman di depan rumah, selain itu juga warga di sini bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari homestay yang disewakan untuk para wisatawan. 

Ragam Seni Budaya Kaliwungu di Kampung Ragam Warna

Kampung Ragam Warna yang penuh pesona ini menyimpan ragam seni dan inilah yang menjadi data menarik bagi wisatawan karena di Kampung Ragam Warna para pengunjung tak hanya bisa berfoto-foto saja tetapi juga bisa belajar tentang seni budaya. Dan inilah seni budaya Kaliwungu dan kemeriahan acara Festival Drumblek Pacific Paint ke-1 di Kampung Ragam Warna :

Kesenian Payung Lukas

Salah satu seni budaya yang ada di Kampung Ragam Warna yaitu seni payung lukis. Ini adalah salah satu kerajinan tradisional khas Kaliwungu karena payung ini terbuat dari bahan-bahan tradisional seperti kayu, bambu dan kertas bekas semen. Sayang sekali saat ini keberadaan para pengrajin payung di Kaliwungu sudah sulit ditemui, dan jumlah pun tinggal menghitung jari saja, salah satu pengrajin payung lukis yang masih bertahan yaitu di dekat Kampung Ragam Warna.

Kuliner Khas Kampung Ragam Warna

Setelah proses membuat Smock, saya pun merilis jalan di Kampung Ragam Warna. Dan terlihat ada rombongan ibu-ibu yang sedang membuat sumpil di depan rumah salah satu warga. Aku pun mendekat dan ikut menyaksikan proses pembuatan sumpil. Apa itu Sumpil? Sumpil adalah kuliner yang terbuat dari beras, kemudian dibungkus menggunakan daun bambu dan dibentuk segitiga. Biasanya sumpil dimakan dengan sambal parutan kelapa.

Jadi Indonesia memang layak mendapatkan predikat surga kuliner dunia. Karena Indonesia memiliki kuliner yang lezat dan beraneka ragam. Salah satu kuliner tradisional khas Kaliwungu yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kampung Ragam Warna yaitu Sumpil. Karena kuliner yang satu ini adalah warisan dari nenek moyang. Di sini kita tidak hanya bisa menikmati kuliner sumpil saja, tetapi kita juga bisa belajar membuat sumpil bersama ibu-ibu di Kampung Ragam Warna.

Di kampung ragam warna terdapat juga tempat olahraga kebugaran atau tempat pusat kebugaran, alat alat kebugaran itu sendiri di sewakan untuk umum atau untuk para pengunjung kampung wisata ragam warna, bagi para pengunjung yang ingin menikmati jasa penyewaan alat kebugaran ini cukup membayar sewanya seikhlasnya saja. 

Mari manfaatkan fasilitas yang ada di kampung ragam warna.

Sumber = www.siklimis.com


Namanya Kampung Ragam Warna. Lokasinya di Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kampung Ragam Warna di Kendal tidak jauh berbeda dengan Kampung Pelangi di Kota Semarang. Bedanya, di Kampung Ragam Warna, setiap 2 minggu sekali ada kegiatan kesenian sehingga warga yang jalan-jalan di kampung tersebut, bisa menikmati hiburan.

“Di sini ada kesenian drumblug (semacam drumband), melukis, tarian, dan lainnya. Kami juga punya sanggar seni,” kata salah satu warga Kampung Ragam Warna, Seseno, Selasa (27/3/2018). Menurut Seseno, kampungnya juga mempunyai program tahunan, di antaranya lomba melukis payung kertas.

Tahun ini adalah yang ketiga kali dan minggu kemarin sudah terselenggara. “Kegiatan rutin mingguan adalah belajar kesenian drumblug,” ujarnya. Sementara itu, Ketua RT 02/RW 01 Desa Kutoharjo Kaliwungu, Suparjan, mengatakan, nama Kampung Ragam Warna ini disandang sejak bulan Januari.

Awalnya, desa ini bernama Kampung Mranggen. “Karena sejak Januari tahun ini, Kampung Mranggen sudah dihias dengan beragam warna kucing,” kata Suparjan. Dia menambahkan, Kampung Mranggen yang kini lebih dikenal sebagai Kampung Ragam Warna terdiri dari beberapa RT, di antaranya adalah RT 2 yang dipimpinnya. “Program pewarnaan rumah, jalan dan tembok ini, dari kami bersama sehingga pengecatannya juga dilakukan oleh kami secara bersama-sama, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” tulisnya.

(peralatan alat alat fitnes yang ada di kampung ragam warna, peralatan fitnes ini di sewakan untuk umum untuk biaya sewanya juga tidak mahal) 

#kampungragamwarna #kampungragamwarnamranggen #ragamwarna #ragamwarnakaliwungu #ragamwarnakendal #kampungragamwarnakaliwungu #wisatakampungragamwarna #kampungragamwarnakendal #kampungragamwarnajawatengah #mranggen #kutoharjo #kaliwungu #kendal #jawatengah #indonesia #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #halilintarsepatusandal

BUKIT KUNTUL MELAYANG KALIWUNGU KENDAL JAWA TENGAH INDONESIA

BUKIT KUNTUL MELAYANG KALIWUNGU KENDAL JAWA TENGAH INDONESIA 51372 1. MAKAM GURU MBAH JAFAR & H MASTURI MIRA 2. MAKAM MBAH K...